Menahan Rindu, Dikenal Dokter Panggilan, Demi Warga 10 Desa

  • Melirik Perjuangan Dokter Muda Jebolan UNIB

 

Istika Dora, 29 tahun Dokter muda rekrutan Program Nusantara Sehat (NS) ini, akan mengakhiri tugasnya di
daerah terpencil dalam wilayah kerja Puskesmas Perawatan Kecamatan Napal Putih. Pengalamannya dalam melayani
masyarakat selama hampir dua tahun itu, patut diapresiasi. Tak sedikit keluh kesah yang mengharukan dan
tantangan yang harus dihadapinya, selama menjalankan tugas di 10 desa dan dua dusun terpencil serta harus
terpisah dari desa induknya itu. Bagaimana kisahnya, simak laporan berikut.

 

SIGIT HARIYANTO – NAPAL PUTIH

Kondisi geografis yang sulit dijangkau, akses informasi yang sulit, masih minimnya infrastruktur dasar dan
terbatasnya tenaga kesehatan menjadi sebab layanan kesehatan di Kecamatan Napal Putih sebagai kecamatan paling
ujung dari Kabupaten Bengkulu Utara (BU) ini, belum maksimal sebagaimana diharapkan masyarakat.

SIGIT/RU – PENGABDIAN Dokter Istika Dora untuk warga Napal Putih patut mendapatkan apresiasi.

Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah dan tekad Istika Dora, dokter muda jebolan Fakultas
Kedokteran Universitas Bengkulu (Unib), untuk mengabdikan diri dan membantu warga di Kecamatan Napal Putih
yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Sejak bergabung dan ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui program NS di bulan Februari
tahun 2019. Menjadikan Dora, gadis manis ini dikenal sebagai dokter panggilan yang siap melayani masyarakat
selama 1×24 jam. Pengabdiannya sebagai dokter patut menjadi contoh seorang dokter dalam mengabdi. Sebelum
ditugaskan ke Kabupaten BU, Dora pernah bertugas sebagai dokter internship di Kepulauan Riau.

Tepat pada bulan Februari 2019 lalu, Dora bergabung dalam program NS dari Kemenkes RI untuk menguatkan layanan
kesehatan primer melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan dasar. Dari situlah, dokter asal Kabupaten
Kaur itu, ditugaskan menggawangi pelayanan kesehatan di Kecamatan Napal Putih yang kesulitan untuk mendapatkan
seorang dokter.

Diawal penugasan, Dora mengaku terkejut dengan situasi geografis desa di wilayah kerjanya dengan infrastruktur
dasar banyak rusak dan suasana yang lumayan menyeramkan dibandingkan kondisi wilayah penugasan yang pernah ia
kunjungi.

Namun seiring berjalannya waktu, situasi itu perlahan sirna oleh sambutan hangat dan positif dari
lingkungan Puskesmas dan masyarakat yang membuatnya nyaman dalam melaksanakan tugas kemanusiaan.
Di sisi lain, Dora tak menepis, bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat dan rusaknya akses jalan menuju
wilayah terpencil seperti KM 40 Kinal Jaya, Gembung Raya dan Lebong Tandai, menjadi kendala baginya saat
melaksanakan tugas.

“Selain beradaptasi dengan lingkungan Puskesmas, saya juga dituntut mengerti dengan bahasa daerah yang
digunakan masyarakat yang harus saya layani. Selain itu, sulitnya jalan menuju wilayah terpencil juga membuat
saya dan tim saat menjalankan tugas seperti melaksanakan kegiatan Posbindu dan Posyandu sering berjalan kaki
ketimbang harus menaiki kendaraan. Sangat mengesankan, ditugaskan di sini (Kecamatan Napal Putih,red), kebetulan
dokter di sini (Puskesmas) hanya saya sendiri,” terangnya.

Di satu sisi, Dora menceritakan perjuangan ekstra dalam melayani masyarakat ketika masa pandemi Covid-19 saat
ini. Menurut Dora, penanganan yang ia lakukan pada pasien dibatasai dan mengedepankan protokol kesehatan.
“Saat pandemi Covid-19 APD lengkap, tidak pernah lepas dari tubuh saya, kebayang panasnya. Belum lagi pada
saat pelayanan, kita harus ekstra mengedukasi pasien yang tidak memperhatikan protokol kesehatan. Tapi Alhamdulillah, tidak menyurutkan semangat untuk tetap melayani masyarakat,” kisahnya.

Selain harus berhadapan dengan kendala di lapangan. Statusnya sebagai dokter satu-satunya di Puskesmas Napal
Putih menjadi kesan tersendiri bagi Dora, yang harus ikhlas mengorbankan waktunya untuk menahan rindu kepada
keluarga dan memaksanya kehilangan momen dimasa lajangnya. Diakui Dora, sejak bertugas di Napal Putih, dirinya
jarang keluar ke kota. Jika ada kebutuhan atau keperluan, Dora meminta tolong kepada rekannya, ketimbang harus
meninggalkan rumah dinasnya.

“Semua itu atas dasar tanggungjawab saya kepada masyarakat. Sebisa mungkin standby 1×24 jam setiap hari, untuk
masyarakat yang membutuhkan. Sehingga waktu untuk memenuhi kebutuhan pribadi hingga sekedar melepas rindu
kepada keluarga, harus saya sisihkan di atas kepentingan masyarakat. Bahkan seumur hidup, baru di sini (Napal
Putih) saya tidak bisa pulang dan tidak bisa merayakan momen Idul Fitri bersama keluarga. Tentu ini menjadi
kesan bagi saya,” imbuhnya.

Di sisi lain, Dora mengaku, masa tugasnya sebagai dokter umum di Puskesmas Napal Putih akan berakhir. Dora
berharap, pemerintah daerah melalui Dinkes BU, bisa mempersiapkan penggantinya untuk menunjang layanan
kesehatan masyarakat di Kecamatan Napal Putih hingga tidak terjadi kekosongan tenaga dokter.
“Beberapa bulan lagi, kontrak saya sebagai dokter NS akan genap dua tahun dan segera berakhir.

Semoga  pemerintah daerah bisa memikirkan pengganti saya karena sangat disayangkan, dengan wilayah yang luas dan
masalah kesehatan yang masih cukup kompleks ini, terjadi kekosongan tenaga dokter. Saya pribadi mengucapkan
terimakasih kepada pemerintah daerah, Puskesmas dan masyarakat yang mendukung tugas-tugas saya. Dan ke depan,
bila peluang pengabdian ini masih terbuka dan masih dibutuhkan, saya siap,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Puskesmas Perawatan Napal Putih, Josen Sibarani, SKM mengaku, peran dan keberadaan dokter
muda ini sangat membantu kinerja pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya. Di sisi lain, Josen merasa gelisah
karena tidak lama lagi, dokter yang hampir dua tahun menggawangi penanganan kesehatan di wilayah kerjanya
harus berakhir kontrak.

“Dokter di Puskesmas kita hanya satu ini. Ini menjadi ujian bagi kami yang setiap hari dituntut untuk
memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Pada prinsipnya, kehadiran dokter muda ini masih sangat
dibutuhkan. Semoga ada kebijakan pemerintah untuk mempertahankan tenaga dokter yang sudah ada atau mencari
penggantinya. Kami sangat membutuhkan tenaga dokter untuk melayani masyarakat,” demikian Josen. (**)