Keruk Emas di Lokasi Cagar Budaya, 12 Penambang Diamankan

LEBONG UTARA RU – 12 warga penambang emas tradisional yang beroperasi di bekas bangunan pabrik emas kolonial Belanda MMRL Lebong Donok di Desa Lebong Tambang, Kecamatan Lebong Utara yang berstatus cagar budaya, diamankan polisi, pada Kamis (22/7) sore kemarin.

Kapolres Lebong, AKBP Ichsan Nur, S.IK membenarkan hal tersebut. Meski demikian, Kapolres memastikan, pihaknya belum akan memproses kasus ini secara hukum. Lantaran mereka (penambang, red) yang diamankan, saat ini masih dibina dan diminta untuk membuat surat pernyataan untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya.

“Jadi jangka pendeknya pembinaan. Saya sudah panggil kepala desanya. Kita buat perjanjian tertulis untuk tidak lagi diulangi sekaligus bersama-sama menjaga kelestarian cagar budaya tersebut,” ungkapnya, kemarin.

Kapolres mengaku, aktivitas pertambangan tersebut sudah sering dilakukan. Mereka yang menambang sebagian besar berasal dari luar Desa Lebong Tambang. Bahkan aktivitas ini sudah beberapa kali dilaporkan kepada pihaknya karena masyarakat sekitar yang merasa terganggu.

“Lokasi ini juga masuk dalam wilayah operasi PT Tansri Majid Energi (TME),” ungkapnya.

Terkait masalah PT TME yang belum produksi dan belum menghasilkan pendapatan bagi daerah, menurutnya itu bukan pelanggaran hukum. Terlebih izin mereka masih panjang hingga 2028. Terkait masalah di atas merupakan wewenang Pemkab Lebong dan Pemprov Bengkulu untuk melakukan evaluasi.

“Hak masyarakat dan hak TME sama. Jika pun evaluasi, itu wewenang dari pemerintah daerah dan pemerintah provinsi,” tukasnya.

Sementara itu, Kades Lebong Tambang, Mispon tak menampik jika sudah lama terganggu dengan aktivitas pertambangan tradisional tersebut. Namun pihaknya bisa mengerti karena hal itu dilakukan untuk mencari nafkah keluarga.

“Dari 12 yang diamankan hanya 5 warga Lebong Tambang. Sisanya warga luar desa,” kata Mispon.

Pihaknya berharap, kedepan ada kerjasama antara pihak perusahaan. Sehingga kedepan tak ada gesekan antara perusahan dengan warga sekitar.

“Seperti yang disampaikan Kapolres, sama-sama instropeksi. Perusahaan dan masyarakat harus bisa duduk bersama untuk mencari jalan tengah,” tutupnya. (oce)