Batuk Berdarah, Dukungan dan Semangat jadi Motivasi Kesembuhan

  • Kisah Pasien Positif Covid-19

PENYEBARAN virus Covid-19 di Kabupaten Bengkulu Utara (BU) memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Bahkan, per hari terjadi penambahan kasus mulai dari 4 hingga 8 kasus. Bahkan pernah terjadi lonjakan hingga 18 kasus dalam sehari.

Melihat kondisi ini memang sangat patut jika semua masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Namun dibalik itu semua perhatian dan dukungan pada pasien juga sangat dibutuhkan untuk mempercepat kesembuhan. Lalu seperti apa sakit yang dialami pasien yang terpapar Covid-19? Simak laporan berikut ini;

ARGA MAKMUR – SEPTI MAIMUNA

DARI AS, salah satu pasien Covid-19 yang telah sembuh dari infeksi virus Corona. Radar Utara mendapatkan sekelumit cerita yang ingin dibagikan pada pembaca. Dari pasien yang namanya tak ingin disebutkan ini, ia mengaku jika obat yang membuat keluarganya mampu melalui cobaan ini adalah dukungan dan perhatian dari keluarga, tetangga dan pemerintah.

“Kami satu keluarga ada tiga orang yang terpapar virus Corona. Semuanya memiliki gejala dan waktu sembuh yang berbeda. Namun dukungan dan sokongan semangat dari saudara, tetangga menjadi hal penting dalam kesembuhan kami,” ungkapnya.

Dikisahkannya, serangan virus ganas ini awalnya menginfeksi anak laki-lakinya yang berusia 16 tahun. Hampir tak terlihat ada tanda-tanda jika virus ini mulai masuk ke tubuh. Bahkan, hanya dalam waktu dua hari, tubuh anaknya ini mampu melaluinya dengan baik.

Sayangnya, virus ini sudah terlanjur menginfeksi istrinya juga. Alhasil, sang istri mengalami kondisi yang sempat membuatnya sangat khawatir. Bagaimana tidak, gejala yang dialami istrinya lebih buruk. Mulai dari hilang indra penciuman, pengecapan, bahkan batuk berdarah.

Dan waktu penyembuhannya pun lebih lama dari sang anak, kurang lebih hingga 2 minggu lamanya. Terakhir, AS mengaku jika dirinya pun dinyatakan positif terpapar Covid-19 di awal November 2020 lalu. Namun kondisinya bisa dikatakan lebih baik dari sang istri lantaran tidak sampai batuk berdarah.

“Saya akan selesai menjalani isolasi di tanggal 3 Desember 2020 (hari ini,red) dan sudah diperbolehkan beraktifitas seperti biasa,” lanjutnya. Diakuinya, selama masa isolasi mandiri banyak sekali bantuan dan dukungan dari semua pihak, baik rekan kerja maupun tetangga sekitar, walau mereka tidak berani melakukan kontak fisik secara langsung.

Untuk mengisi waktu isolasi ini, dirinya beserta keluarga memilih untuk berkebun dan mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Pasalnya, aktifitas fisik menjadi salah satu kunci kesembuhan bagi pasien Covid-19 dan cara ini dirasa cukup efektif.

“Kami sangat menghindari kontak fisik dengan orang lain dan pada saat berkebunpun atau melakukan aktifitas fisik lainnya, kita selalu melengkapi diri dengan alat pelindung diri lengkap dan tanpa ada kontak dengan warga manapun. Kami tidak ingin ada yang tertular dari kami,” jelasnya.

Terakhir dirinya berharap semua pihak bisa terus menerapkan protokol kesehatan dan selalu mengecek kondisi keluarga, karena antara anak-anak usia muda dan para orang tua memiliki gejala dan masa kesembuhan yang tidak sama, sehingga perlu adanya kewaspadaan diri.

Selain itu, jika telah dipastikan terkonfirmasi positif Covid-19, jangan panik namun sebisa mungkin berusaha untuk sembuh dan mematuhi anjuran dari dokter. “Jangan panik, walau angka kematian cukup tinggi, namun diimbangi dengan angka kesembuhan yang juga cukup tinggi dan diperlukan semangat untuk sembuh dari pasien serta dukungan dari semua pihak kepada pasien juga tak kalah pentingnya,” tandas pasien Covid-19 yang berhasil sembuh ini. (**)

__Terbit pada
3 Desember, 2020
__Kategori
News