Bangun Daya Kritis Anak Sejak Usia Dini

MENAIKKAN level pengetahuan anak tidak bisa dilakukan secara instan. Apalagi membangun daya analisis, berpikir kritis (critical thinking),

dan memecahkan masalah (problem solving), tidak bisa hanya dilakukan melalui uji coba dan les bimbingan belajar sebelum ujian dilakukan.

“Untuk membangun kemampuan tersebut, butuh waktu panjang dan harus dilakukan sejak usia dini,” jelas Akademisi Rhenald Kasali Rhenald bersama sang istri,

Elisa Kasali pun membantu meningkatkan pemahaman anak-anak usia dini dari kalangan tidak mampu. Keduanya mendirikan Yayasan Rumah Perubahan, yang salah satu kegiatannya menyediakan sekolah bermutu untuk anak-anak kurang mampu pada level dasar.

Sebuah laboratorium dibangun dengan rujukan dari Beyond Centers and Circle Time (BCCT), yang dibimbing ahli perkembangan anak dari Florida State University, Amerika Serikat. Melalui laboratorium, perkembangan anak dipantau.

Bahkan ada ‘bengkel’ dikembangkan untuk membuat alat permainan edukatif yang bisa merangsang anak berpikir.

Upaya membuahkan pencapaian anak-anak yang dibimbing Rhenald selama 15 tahun di Yayasan Rumah Perubahan. Hasil menunjukkan kemajuan yang membanggakan meski anak-anak berasal dari kalangan kurang mampu.

Hasil perkembangan anak-anak dari Yayasan Rumah Perubahan Rhenald selama 15 tahun didukung metode sentra. Metode sentra berhasil membentuk Higher-order thinking, yang biasa dikenal higher order thinking skills (HOTS).

Ukuran ini menjadi acuan dalam survei skor Programme for International Student Assessmen (PISA) untuk menilai kemampuan membaca.

“Besar kemungkinan, kita telah terperangkap higher level yang seakan-akan terpisah atau tahapan dari lower order of thinking seperti menghafal.

Kenyataannya, level pemahaman sudah bisa dibentuk bersamaan saat anak mulai melatih motorik kasar dan halus, bahasa, dan rasa percaya diri,” Rhenald menambahkan.

Bisa juga membangun empati dan jiwa sosial menjadi domain berpikir sambil bermain sejak usia dini.

Rhenald bersama Elisa Kasali juga menemukan pembentukan karakter, dimana anak-anak sudah mampu mengenal mana yang baik dan mana yang jahat atau mana yang lebih baik dalam kehidupan.

Sayangnya, perhatian pendidik lebih ditekankan pada konten dan kognitif. “Hal-hal dasar yang menjadi pembentuk karakter, disiplin, kemampuan berpikir, dan memahami menjadi terabaikan dan ‘dimatikan’ (tidak dibangun).

Tentunya, berakibat fatal bagi pembentukan karakter bangsa serta kecakapan hidup yang sangat dibutuhkan membangun bangsa menghadapi tantangan-tantangan baru,” ujar Rhenald.

Laporan PISA memantik keprihatinan pendidikan Indonesia. Publikasi pada 3 Desember 2019 lalu, laporan PISA 2018 kembali menempatkan Indonesia di peringkat bawah dari 79 negara yang disurvei.

Bahwa kemampuan membaca, siswa Indonesia berada di peringkat 74 (sebelumnya peringkat 64), matematika peringkat 73 (sebelumnya 63), dan kinerja sains ada di peringkat 71 (sebelumnya 62). Selama ini, assessment dalam PISA berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Indonesia pernah mencoba memberikan soal kategori HOTS pada waktu Ujian Nasional (UN) 2018. Namun, siswa kesulitan karena belum terlatih dengan soal HOTS.

Rupanya, taraf pendidikan yang diterima siswa selama ini lebih menitikberatkan menghafal, memahami dan mengaplikasikan. Tahapan ini level bawah dan masuk kategori Lower Order Thinking Skills (LOTS).

Makin naik levelnya, siswa dituntut untuk bisa berpikir kritis, analitis, memecahkan masalah, dan melakukan evaluasi. Mayoritas siswa Indonesia belum mencapai tahap tersebut.

Itulah yang diamati Rhenald yang juga Guru Besar Universitas Indonesia (UI) dari pengalamannya yang mengabdi selama 35 tahun dalam bidang pendidikan. (net)

__Terbit pada
21 Desember, 2019